Di era digital sekarang, sosial media telah menjadi mesin utama yang bisa mendorong sebuah lagu langsung melejit. Beberapa faktor yang membuat lagu-lagu bisa “meledak” melalui platform seperti TikTok atau Instagram Reels hanya dengan snippet 15 detik saja. Beberapa penyebab viralnya lagu melalui media sosial antara lain:
- Lirik yang Catchy & Fleksibilitas Remix: Lagu dengan lirik yang mudah diingat, emosional, atau relevan lebih gampang digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari curhatan hingga motivasi. Jika lagu tersebut bisa dibuat versi remix, kreativitas pengguna makin meningkat dan penyebarannya menjadi lebih luas.
- Dukungan Influencer & Selebriti: Lagu yang dipakai oleh influencer atau selebriti cepat mendapatkan perhatian lebih, karena pengikut mereka ikut membagikan dan menggunakan lagu tersebut. Biasanya, mereka juga bisa secara tidak sengaja menciptakan tren karena followers meniru apa yang mereka posting.
- Dukungan Algoritma Sosial Media: Konten yang mendapatkan banyak interaksi (like, share, komentar) akan lebih sering muncul di feed pengguna lain, memperkuat eksposur lagu secara organik.
Efek dari viral ini sangat terasa di industri musik seperti artis indie bisa tiba-tiba populer, strategi pemasaran bergeser dari radio dan TV ke sosial media, dan streaming di platform seperti Spotify melonjak drastis.
Kasus Nyata: “Young , Black & Rich” dan Tren Pacu Jalur di Indonesia
Salah satu contoh paling menarik dari fenomena ini adalah lagu “Young, Black & Rich” oleh rapper Amerika Melly Mike. Lagu ini naik daun di Indonesia karena dipakai sebagai latar musik untuk video tarian tradisional Pacu Jalur.
Pada konten viral tersebut, seorang bocah berusia 11 tahun bernama Rayyan Arkan Dikha menari dengan semangat di atas perahu jalur, diiringi lagu Melly Mike. Gerakan tariannya yang disebut “Aura Farming” kemudian menyebar secara masif di TikTok dan platform lain, memunculkan tren tarian yang diikuti banyak warganet.
Melly Mike, Penyanyi “Young, Black and Rich” Datang Langsung untuk Bernyanyi
Karena viralnya video ini, Melly Mike memutuskan untuk datang ke Indonesia untuk turut merayakan Festival Pacu Jalur. Menariknya, ia rela menanggung biaya perjalanan sendiri tanpa dibayar oleh panitia acara. Dalam pernyataannya, Melly Mike menyampaikan rasa terima kasih mendalam dan menyatakan seolah-olah ia datang ke “rumah kedua”:
“Saya sangat senang akhirnya bisa merasakan budaya Riau secara langsung. Salam Kayuah!” - Melly Mike (Kompas.com)
Panitia festival juga menyatakan bahwa lagu “Young, Black & Rich” diputar pada malam penutupan acara sebagai bentuk penghargaan atas dampak budaya yang dihasilkan oleh tren tersebut.
TikTokable dan Reelsable Menjadi Strategi Baru Musisi
Fenomena lonjakan popularitas lagu seperti “Young, Black & Rich” kini tak lagi bergantung pada rilis album atau kampanye promosi besar, melainkan pada snippet pendek sekitar 15 detik yang digunakan di media sosial. Potongan singkat ini mudah diingat, catchy, dan gampang di-remix oleh kreator konten, sehingga membantu lagu menjangkau audiens secara organik. Tren ini mencerminkan pergeseran industri musik ke arah konten pendek, di mana banyak musisi kini merilis lagu yang ‘TikTokable’ atau ‘Reelsable’, berbeda dengan artis seperti Adele yang lebih menonjolkan storytelling dan vokal atau Nadin Amizah yang tetap bertahan dengan nuansa indie-folk mellow. Algoritma media sosial mendorong penciptaan lagu cepat nempel dan mudah digunakan, membuat viralitas sering menjadi prioritas dibandingkan eksplorasi musikal yang mendalam.
Mengikuti Tren Sementara, Menjaga Identitas Selamanya
Strategi musik modern menunjukkan bahwa potongan lagu (snippet) yang mudah viral bisa memberikan dampak besar jika diproduksi dengan tepat. Selain itu, melibatkan komunitas lokal menjadi kunci, karena tren kultural dapat dijembatani melalui musik global, meningkatkan engagement sekaligus relevansi sosial. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Reels tidak lagi sekadar hiburan, platform ini telah menjadi kanal distribusi musik yang sangat efektif. Tak kalah penting, musisi juga perlu bersiap untuk peluang kolaborasi budaya, di mana apresiasi terhadap budaya lokal bisa menjadi bagian dari strategi jangka panjang, bukan sekadar momen viral sesaat.