Dalam beberapa tahun terakhir, influencer marketing telah berkembang pesat dan menjadi salah satu strategi pemasaran digital paling efektif. Bahkan, lebih dari 90% marketer ini menggunakan influencer marketing dan mayoritas brand berencana meningkatkan anggarannya. Namun, fenomena ini bukanlah tren baru semata. Influencer marketing telah mengalami evolusi panjang dari era selebritis, artis hingga creator dan komunitas digital yang lebih autentik dan relevan.
Awal Mula Influencer Marketing
Konsep influencer marketing sebenarnya sudah ada jauh sebelum media sosial. Pada abad ke-18, brand sudah memanfaatkan figur berpengaruh untuk membangun kepercayaan. Salah satu contoh paling awal adalah Josiah Wedgwood, pengrajin keramik Inggris yang mendapat dukungan kerajaan Inggris untuk memasarkan produknya sebagai “Queenswear”. Strategi ini membuktikan bahwa otoritas dan pengaruh tokoh publik mampu mempengaruhi keputusan konsumen.
Memasuki abad ke-20, brand mulai menggunakan karakter fiktif sebagai influencer. Coca-Cola, misalnya, mempopulerkan sosok Santa Claus untuk membangun citra hangat dan emosional. Pendekatan ini menunjukkan bahwa storytelling dan kedekatan emosional sudah menjadi fondasi influencer marketing sejak awal.
Dari Reality Show ke Sosial Media
Kehadiran reality show seperti Keeping up With The Kardashians menjadi titik transisi paling penting. Figur reality show digambarkan lebih “real” dan relatable dibanding selebriti tradisional. Kedekatan emosional tersebut menjadi cikal bakal influencer modern dimana publik figur yang membagikan kehidupan personal dan membangun koneksi dengan audiens.
Sampai munculnya media sosial seperti Instagram, Youtube dan TikTok mengubah lanskap influencer marketing secara drastis. Kini, siapapun bisa menjadi influencer selama mampu membangun audiens dan menciptakan konten yang konsisten dan menarik. Dari sini muncul istilah micro-influence dan nano-influencer. Berbeda dengan artis, creator cenderung:
- Lebih autentik dan relatable
- Memiliki engagement yang lebih tinggi
- Dipercaya karena pengalaman nyata, bukan sekedar endorsement
Karena creator lebih memiliki audiens yang lebih spesifik, maka dari itu banyak brand yang beralih dari selebriti ke micro-influencer. Meskipun followersnya sedikit, hal tersebut justru mampu memberikan ROI lebih tinggi karena kedekatan dengan audiens.
Masa Depan Influencer Marketing Menjadikan Komunitas sebagai Kekuatan Utama
Kedepannya, influencer marketing tidak hanya berpusat pada individu, tetapi pada komunitas. Brand mulai melibatkan berbagai peran mulai dari creator, pelanggan setia, ambassador, expert, hingga karyawan. Strategi ini menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan, di mana audiens bukan hanya target pemasaran, tetapi bagian dari cerita brand itu sendiri.
Pada akhirnya, esensi influencer marketing tetap sama yaitu membangun kepercayaan, keaslian, dan koneksi emosional. Bedanya, kini kekuatan tersebut tidak lagi dimonopoli oleh artis atau selebriti besar, melainkan oleh creator dan komunitas yang benar-benar dipercaya audiens. Dalam hal inilah platform seperti SevenAds berperan sebagai jembatan, membantu brand menemukan kolaborasi yang terasa relevan dan organik, sehingga pesan yang disampaikan tidak hanya dilihat, tetapi juga dipercaya.